Wednesday 26 August 2015

cikgu kegemaran

Cikgu adalah individu yang paling penting di dalam sesebuah sekolah.Tugasnya setiap hari mengajar anak muridnya agar berjaya dalam hidup.Setiap pelajar mempunyai guru kegemaran masing-masing termasuklah aku sendiri.Sebelum itu aku memperkenalkan diri aku dulu.Nama diberi tanpa disangka oleh kedua ibu bapaku,nama ku muhammad afiq bin mat nawi.Aku dilahirkan di Hospital Tanah Merah,Kelantan dan di besarkan di Pasir Puteh. 

Nama cikgu kegemaran aku ialah cikgu Yusri.Masa aku lower form(1,2,&30)dia mengajar aku subjek kemahiran hidup.Dia adalah salah seorang guru cemerlang di sekolah ini.Aku suka akan perwatakkannya sebagai seorang guru kerana dia amat menitik beratkan tentang pelajarnya.Aku ini diantara pelajar yang lemah lah jugak dalam subjek iytu.Namun dia tidak berputus asa untuk mengajarku 

Dengan usahanya selama ini,dulu aku mendapat 34% markah,sekarang cikgu Yusri boleh membuktikan aku boleh mendapat 98%markah dalam peperiksaan dan peperiksaan PT3 aku mendapat A+ untuk subjek kemahiran hidup.Aku sangat bersyukur dengan keputusan itu dan aku tidak akan sesekali melupakan jasa yang cikgu Yusri taburkan kepadaku.Terima klasih cikgu.Jasa beliau tidak dapat dibalas.

Sunday 12 July 2015

pengorbanan seorang sahabat

Hari ini adalah hari ulang tahun sahabatku, “Rina”. Dia, terlihat bahagia karena orang tuanya memberinya hadiah yang indah. Sedangkan, teman-teman juga memberinya banyak hadiah.
Tapi, diulang tahunnya kali ini aku tidak bisa memberinya apa-apa. Karena, keluargaku sekarang sedang kesulitan ekonomi. Aku berharap agar Rina mengerti keadaanku sekarang.
Dan, ternyata Rina mengerti keadaan ku sekarang. Rina memang sahabat yang paling baik yang pernah aku miliki.
Beberapa hari kemudian, Rina pun jatuh sakit. Aku ingin menjenguknya di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, ibu Rina berkata, “Rina sakit parah dan kemungkinan sudah tidak ada harapan untuk hidup lebih lama”. Dia terserang penyakit yang sangat parah dan tidak ada kemungkinan untuk sembuh. Satu persatu organ tubuhnya rusak dan butuh donor yang cocok untuknya.
Aku pun sedih melihat sahabat ku harus menanggung sakitnya sendiri. Aku mencoba untuk pergi ke laboratorium untuk tes apakah organ tubuh ku cocok untuk Rina. Aku ingin melihat sahabat ku hidup sehat dan bahagia seperti dulu lagi. Aku mencoba membantunya sebisa yang aku bisa.
Tenyata, hasil tesnya cocok dan aku meminta izin kepada ibu untuk mendonorkan organ tubuh ku pada Rina. Tapi, ibu tidak menyetujui keputusan ku, karna ibu tidak ingin apabila nanti akibatnya terjadi padaku. Karena ibu sangat sayang padaku dan tidak ingin terjadi apa-apa dengan ku. Tapi, aku sangat ingin mendonorkan organ tubuh ku pada Rina. Aku berusaha meyakinkan ibu agar ibu menyetujui keputusan ku.
Dan akhirnya, ibu mengerti betapa Rina sangat membutuhkan donor itu. Tapi, ibu juga kelihatan kurang ikhlas. ”Tapi, ini demi Rina bu...” ucapku. ”iya nak ibu mengerti perasaan mu. Tapi apakah tidak bisa menggunakan cara yang lain nak...??” jawab ibu. ”Ayolah bu...!!” ucapku. ”Yaudah, terserah padamu ibu sudah mengingatkan mu pokoknya..” jawab ibu.
Setelah mendapat persetujuan ibu, keesokan harinya pun aku langsung diperbolehkan untuk pergi operasi. Alhamdulillah, operasi berjalan lancar dan selamat. Organ tubuh ku sekarang berada di dalam tubuh Rina. Kami, berdua merasa senang karena operasinya lancar.
Satu hari, dua hari, rasanya badan masih terasa sehat. Tapi lama kelamaan badan semakin hari semakin lemas dan sering juga sakit. ”Apakah ini akibat dari operasi kemarin..??” tanyaku dalam hati. Akhirnya aku harus menanggung hidup ku di atas kursi roda,
karena aku sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan.
Hari demi hari telah berganti, aku sudah mulai beranjak remaja. Sekarang aku sudah bersama dengan orang yang menyayangiku, yaitu “Roni”. Roni sangat sayang padaku dan aku pun juga sangat sayang padanya. Tapi, disisi lain Rina juga mencintai Roni. Aku pun bingung di antara dua pilihan. Disisi lain aku sayang dan mencintai Roni tapi, disisi lain juga aku sangat sayang dan merasa kasihan pada Rina.
Akhirnya, aku putuskan untuk merelakan Roni bersama Rina. Tapi, Roni membantah keputusan ku. ”Ron...kamu sayang sama aku kan..?? kalau kamu sayang sama aku kamu harus mau sama Rina ya..??” ucapku pada Roni. ”Tapi Rani, aku sangat mencintaimu, aku gak bisa bohongi perasaan ku. Aku sangat sayang sama kamu, aku sudah terlanjur jatuh cinta sama kamu..” jawab Roni. ”Roni, aku ini punya penyakit yang parah..aku juga tidak bisa membebankan kamu untuk mendorong aku terus.. lebih baik kamu sama Rina ya. Dia cantik, dia pintar, dia baik hati juga.” sambung ku. (Roni memegang kedua tangan Rani) ”Rani, walaupun kamu sakit, aku tetap sayang padamu. Aku cinta kamu apa adanya. Sungguh, aku ndak bohong..!!” jawab Roni. “udahlah Roni...Kamu sama Rina aja..” Jawab ku.
Aku pun pergi meninggalkan Roni dengan menangis. ”Roni, maafkan aku. Sesungguhnya aku juga tidak ingin kamu bersama dengan Rina. Tapi, ini demi Rina...” Ucap ku dalam hati.
“Rani...,Raniiiiii kamu mau kemana..” teriak Roni. ”Baiklah jika ini mau mu. Aku akan turuti mau mu. Tapi dengarkan aku Rani, aku akan tetap sayang padamu..” sambung Roni.
Keesokan harinya, Roni pun menyatakan cintanya pada Rina dihadapan ku. Aku pun senang walaupun hatiku sangat sakit dan sakit. Aku pun mengatakan selamat kepada mereka berdua. Wajah ku terlihat bahagia padahal hatiku menangis. Hatiku menangis tak masalah buat ku, yang penting sahabat ku bahagia.
Hari demi hari berganti, aku pun terus belajar mulai dari pelajaran yang aku terima di sekolah karena sebentar lagi ujian kelulusan. Aku berjanji akan melupakan kejadian yang telah berlalu.
Setiap Rina meminta bantuan selalu aku bantu karena, aku tidak ingin dia merasa sedih. Aku ingin Rina selalu bahagia walaupun nyawa taruhannya. Tapi, megapa Rina tidak pernah membantu ku sejak dia bersama Roni. Seakan-akan dia sudah lupa sama sahabatnya sendiri. Saat aku terjatuh Rina seakan-akan tidak mengerti bahwa aku terjatuh. Tapi itu sudah aku anggap sebagai cobaan dalam persahabatan.
Setahun telah berlalu. Aku sudah lulus dari SMA. Tapi, sayangya aku tidak bisa melanjutkan sekolahku ke tingkat yang lebih tinggi. Karena sakit ku kini makin parah. Semenjak aku mendonorkan organ tubuhku, aku menjadi sakit sakitan. Kini yang aku bisa hanya mengurung diri di dalam rumah dan tidak pernah keluar rumah. Roni pun selalu memberiku semangat untuk sembuh. Tapi, rasanya sudah tidak mungkin lagi untuk aku sembuh.
Dua tahun berlalu. Rani pun meninggal dunia. Roni pun menangis menyesali kenapa dia harus menuruti kemauan Rani dulu. “Seandainya aku sekarang bersama Rani, Aku akan coba membuat dia bahagia di akhir hidupnya. Tapi, kini sudah terlambat bagi ku untuk melakukan itu” ujar Roni dalam hati.
Rina pun juga menyesal. ”seharusnya aku tidak menerima organ tubuhnya dulu” ucap Rina. ”Seharusnya aku yang ada di dalam sini, bukan kamu Ran... Maafkan aku ya Rani, seandainya aku tidak menerima donor tubuhmu, kamu tidak akan seperti ini. Aku sangat benci pada diriku sendiri.., maafkan aku ya Rani..” sambung Rina.
“Sudahlah Rina.. Kita tidak boleh menyesali kepergiannya. Ini sudah rencana-Nya yang di atas, syukuri saja apa yang terjadi” Jawab Roni. Akhirnya, Rina menyadari ini sudah jalan hidup Rani. Rina hanya bisa mendo’akan Rani disana.
“Terima kasih Rani.. Atas pengorbananmu, aku dapat hidup bahagia. Sekali lagi, terima kasih” Ucap Rina..

kisah syaidina Abu Bakar As Siddiq

Sayyidina Abu Bakar As Siddiq r.a adalah manusia paling agung dalam sejarah Islam sesudah Rasulullah SAW. Kemuliaan akhlaknya, kemurahan hatinya dalam mengorbankan harta benda dan kekayaannya untuk Islam, kebijaksanaannya dalam menyelesaikan masalah umat, ketenangannya dalam menghadapi kesukaran, kerendahan hatinya ketika berkuasa serta tutur bahasanya yang lembut lagi menarik adalah sukar dicari bandingannya baik dahulu mahupun sekarang. 

Dialah tokoh sahabat terbilang yang paling akrab dan paling disayangi Rasulullah SAW. Nama sebenar Sayyidina Abu Bakar As Siddiq adalah Abdullah bin Qahafah. Sebelum Islam, beliau adalah seorang saudagar yang tersangat kaya dan dari keluarga bangsawan yang sangat dihormati oleh masyarakat Quraisy. Bahkan sebelum memeluk Islam lagi, Abu Bakar terkenal sebagai seorang pembesar Quraisy yang tinggi akhlaknya dan tidak pernah minum arak sebagaimana lazim dilakukan oleh pembesar-pembesar Quraisy yang lain.

Dari segi umur, Sayyidina Abu Bakar r.a adalah dua tahun lebih muda dari Rasulullah SAW dan telah menjalin persahabatan yang akrab dengan baginda Rasul lama sebelum Rasulullah SAW menjadi Rasul. Beliaulah tokoh sahabat besar yang paling banyak berkorban harta benda untuk menegakkan Islam di samping Nabi Muhammad SAW.

Besarnya pergorbanan beliau itu sehingga Rasulullah SAW pernah mengatakan bahawa Islam telah tegak di atas harta Siti Khadijah dan pergorbanan Sayyidina Abu Bakar r.a. Adapun gelaran As Siddiq yang dberikan kepadanya itu adalah kerana sikapnya yang selalu membenarkan apa sahaja kata-kata mahupun perbuatan Nabi Muhammad SAW.

Dalam hal ini elok kita petik suatu kisah seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud yang diceritakan sendiri oleh Sayyidina Abu Bakar, tentang bagaimana Sayyidina Abu Bakar r.a memeluk agama Islam.

Kata Sayyidina Abu Bakar r.a, “Aku pernah mengunjungi seorang tua di negeri Yaman. Dia rajin membaca kita-kitab dan mengajar ramai murid. Dia berkata kepadaku:

“Aku kira tuan datang dari Tanah Haram.”

“Benar,” jawabku.

“Aku kira tuan berbangsa Quraisy?”

“Benar,” ujarku lagi.

“Dan apa yang aku lihat, tuan dari keluarga Bani Tamim?”

“Benarlah begitu,” tambahku selanjutnya.

Orang tua it terus menyambung katanya, “ Ada satu hal yang hendak aku tanyakan dari tuan, iaitu tentang diri tuan sendiri. Apakah tak keberatan jika aku lihat perutmu?”

Maka pada ketika itu aku pun berkata,” Aku keberatan hendak memperlihatkan selagi tuan tidak nyatakan kepadaku perkara yang sebenarnya.”

Maka ujar orang tua itu, “Aku sebenarnya melihat dalam ilmuku yang benar bahawa seorang Nabi Allah akan diutus di Tanah Haram. Nabi itu akan dibantu oleh dua orang sahabatnya, yang seorang masih muda dan seorang lagi sudah separuh umur. Sahabatnya yang muda itu berani berjuang dalam segenap lapangan dan menjadi pelindungnya dalam sebarang kesusahan. Sementara yang separuh umur itu putih kulitnya dan berbadan kurus, ada tahi lalat di perutnya dan ada suatu tanda di paha kirinya. Apalah salahnya kalau tuan perlihatkan kepadaku.”

Maka sesudah dia berkata itu aku pun membuka pakaianku lalu orang tua itu pun melihatlah tahi lalat hitam di atas bahagian pusatku seraya berkata, “Demi Tuhan yang menguasai Kaabah, tuanlah orangnya itu!”

Kemudian orang tua itu pun memberi sedikit nasihat kepadaku. Aku tinggal di Yaman untuk beberapa waktu kerana mengurusi perniagaanku dan sebelum meninggalkan negeri itu, aku sekali lagi pegi menemui orang tua tersebut untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Kemudian dia lalu bertanya, “Bolehkah tuan menyampaikan beberapa rangkap syairku?”

“Boleh sahaja,” jawabku.

Setelah itu aku pun membawa pulang syair-syair itu ke Mekah. Setibanya aku di Mekah, para pemuda bergegas datang menemuiku seraya berkata, “Adakah engkau tahu apa yang sudah terjadi?”

Maka ujarku pula, “Apakah yang terjadi itu?”

Jawab mereka, “Si yatim Abu Talib kini mengaku menjadi Nabi! Kalaulah tidak mengingatkan engkau hai Abu Bakar, sudah lama kami selesaikan dia. Engkaulah satu-satunya yang kami harapkan untuk menyelesaikannya.”

Kemudian aku pun meminta mereka pulang dahulu sementara aku sendiri pergi menemui Muhammad. Setelah menemuinya aku pun mengatakan, “Wahai Muhammad, tuan telah mencemarkan kedudukan keluarga tuan dan aku mendapat tahu tuan terang-terang telah menyeleweng dari kepercayaan nenek moyang kita.”

Maka ujar baginda, “Bahawa aku adalah Pesuruh Allah yang diutuskan untukmu dan untuk seluruh umat!”

Aku pun bertanya baginda, “Apa buktinya?”

Jawab Baginda, “Orang tua yang engkau temui di Yaman tempoh hari.”

Aku menambah lagi, “Orang tua yang mana satukah yang tuan maksudkan kerana ramai orang tua yang aku temui di Yaman itu?”

Baginda menyambung, “Orang tua yang mengirimkan untaian syair kepada engkau!”

Aku terkejut mendengarkannya kerana hal itu tiada sesiapa pun yang mengetahuinya. Lalu aku bertanya, “Siapakah yang telah memberitahu tuan, wahai sahabatku?”

Maka ujar baginda, “Malaikat yang pernah menemui nabi-nabi sebelumku.”

Akhirnya aku berkata, “Hulurkan tangan tuan, bahawa dengan sesungguhnya aku naik saksi tiada Tuhan yang ku sembah melainkan Allah, dan tuan (Muhammad) sebenarnya pesuruh Allah”

Demikian kisah indah yang meriwayatkan bagaimana Islamnya Sayyidina Abu Bakar as Siddiq. Dan memanglah menurut riwayat beliau merupakan lelaki pertama yang beriman kepada Rasulullah SAW.

Keislaman Sayyidina Abu Bakar As Siddiq r.a telah membawa pengaruh besar di kalangan kaum bangsawan Quraisy kerana dari pengaruh keislamannya itulah maka beberapa orang pemuda bangsawan Quraisy seperti Sayyidina Usman bin Affan r.a, Sayyidina Abdul Rahman bin Auf r.a, Sayyidina Saad bin Waqqas r.a menuruti jejak langkahnya.

Semenjak memeluk Islam, Sayyidina Abu Bakar r.a telah menjadi pembela Islam yang paling utama serta seorang sahabat yang paling akrab serta paling dicintai Rasulullah SAW. Seorang sahabat, Sayyidina Amru bin Al As r.a pernah suatu hari menanyakan Rasul, “Siapakah di antara manusia yang paling tuan sayang!”

Baginda menjawab, “Siti Aisyah dan kalau laki-laki adalah bapanya.”

Selain itu, Sayyidina Abu Bakar as Siddiq r.a terkenal dengan keteguhan imannya, cerdas akal, tinggi akhlak, lemah lembut dan penyantun. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Jika ditimbang iman Abu Bakar As Siddiq dengan iman sekalian umat maka berat lagi iman Abu Bakar.”

Demikian teguhnya iman Sayyidina Abu Bakar r.a. Gelaran As Siddiq yang diberikan terhadap dirinya itu lantaran sikap serta pendiriannya yang teguh dalam membenarkan serta membela diri Rasulullah SAW. Andainya sekalian umat manusia mendustakan Muhammad SAW, Abu Bakar r.a pasti akan tampil dengan penuh keyakinan untuk membelanya.

Setelah memeluk Islam, Sayyidina Abu Bakar menyerahkan seluruh kekayaan dan jiwa raganya untuk melakukan perjuangan menegakkan Islam bersama Nabi Muhammad SAW. Beliau telah mengorbankan seluruh harta bendanya untuk menebus orang-orang yang ditawan, orang-orang yang ditangkap atau diseksa. Beliau juga telah membeli hamba-hamba yang kemudian dimerdekakannya. Salah seorang daripadanya ialah Sayyidina Bilal bin Rabah r.a.

Tatkala Nabi Muhammad SAW selesai melakukan Israk dan Mikraj, segolongan orang yang kurang mempercayai apa yang telah dikhabarkan Rasulullah SAW telah pergi menemui Sayyidina Abu Bakar r.a untuk mendengarkan apa pendapatnya tentang dakwaan Muhammad SAW itu.

Sebaik mendengarnya, Sayyidina Abu Bakar terus berkata,” Adakah Muhammad berkata begitu?”

Sahut mereka, “Benar!”

Maka ujar Sayyidina Abu Bakar r.a, “Jika Muhammad berkata begitu maka sungguh benarlah apa yang diceritakan itu.”

Lalu mereka pun terus menyambung, “Engkau percaya hai Abu Bakar bahawa Muhamamad sampai ke tanah Syam yang jauhnya sebulan perjalanan, hanya dalam satu malam?”

Maka sahut Abu Bakar sungguh-sungguh, “Benar! Aku percaya! Malah lebih dari itu pun aku percaya kepadanya. Aku percaya akan berita dari langit yang diberitakannya, baik pada waktu siang mahupun di waktu malam!”

Demikian hebatnya keyakinan sahabat yang paling utama itu. Oleh kerana tegas dan teguhnya iman beliau terhadap agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan terhadap apa yang dikhabarkan oleh baginda maka beliau telah diberi gelaran
 As-Siddiq, ertinya yang membenarkanoleh Rasulullah SAW.

Tidaklah menghairankan sikap Abu Bakar itu. Beliau telah lama mengenali Muhammad SAW, bukan sehari dua. Beliau tahu bahawa sahabatnya itu sentiasa berkata benar, tidak pernah bohong hingga digelar orang Al Amin.

Tatkala kekejaman musyirikin Quraisy terhadap kaum muslimin yang sedikit jumlahnya di Mekah semakin hebat dan membahayakan, Nabi Muhammad SAW telah memberitahu Sayyidina Abu Bakar r.a supaya menemaninya dalam hijrah tersebut. Dengan perasaan gembira tanpa sedikit kebimbangan pun Sayyidina Abu Bakar r.a menyambut permintaan Rasulullah SAW.

Dari pintu belakang rumah Sayyidina Abu Bakar r.a, Rasulullah SAW bersama-sama Sayyidina Abu Bakar menuju ke Gua Tsur dan bersembunyi di situ. Pada saat suasana amat kritikal, Sayyidina Abu Bakar r.a diserang kegelisahan dan cemas kerana khuatir kalau-kalau musuh dapat mengetahui di mana Rasulullah SAW sedang bersembunyi, maka turunlah ayat suci Al Quran dari Surah At Taubah yang isinya memuji Sayyidina Abu bakar As Sidiq, sebagai ‘orang kedua’ sesudah Nabi Muhammad SAW dalam Gua Tsur. Dalam pada itu Rasulullah SAW pun mengerti akan situasi dan kegelisahan sahabatnya itu yang oleh kerananya Rasul SAW berkata, “Apakah yang mengelisahkanmu, bukankah Allah bersama kita?”

Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Kiranya mereka masuk juga ke dalam gua ini, kita masih dapat melepaskan diri dari pintu belakang itu,” ujar Rasulullah SAW sambil menunjukkan ke belakang mereka.

SayyidinaAbu Bakar r.a pun menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya beliau bila dilihatnya pintu belakang yang ditunjuk oleh Rasul itu, padahal pintu tersebut tadinya tidak ada sama sekali. Sebenarnya kebimbangan Abu Bakar r.a tatkala di dalam gua itu bukanlah kerana takutkan nyawanya diragut oleh pihak musuh tetapi yang lebih dibimbangkannya ialah keselamatan jiwa Baginda Rasul.

Beliau pernah berkata kepada Baginda Nabi saw,”Yang saya bimbangkan bukanlah diri saya sendiri. Kalau saya terbunuh, saya hanyalah seorang manusia biasa. Tapi andai kata tuan sendiri dapat dibunuhnya maka yang akan hancur ialah Islam.”

Ucapan antara dua orang sahabat tatkala dalam gua tersebut di dalam Al-Quran pada Surah At-Tawbah ayat 40:



“Kalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) ketika dia diusir oleh orang-orang kafir (dari kampung halamannya), dalam keadaan berdua orang sahaja di dalam suatu gua, di kala itu dia (Muhammad) berkata kepada sahabat karibnya (Abu Bakar) : Jangan engkau berdukacita, sesungguhnya Tuhan bersama kita. Tuhan menurunkan ketenangan kepadanya dan dikuatkannya dengan tentera yang tidak kamu lihat. Dan Tuhan menjadikan perkataan orang kafir itu paling rendah dan perkataan Tuhan itu yang amat tinggi. Dan Tuhan Maha Kuasa dan Bijaksana.”

Demikian satu lagi keistimewaan Sayyidina Abu Bakar As Siddiq sebagai seorang sahabat yang sama-sama mengalami kesukaran dan kepahitan bersama-sama Rasulullah SAW dalam menyampaikan seruan Islam. Sayyidina Abu Bakar r.a tidak bercerai jauh dengan Baginda Rasul sepanjang hidupnya dan menyertai semua peperangan yang dihadapi Baginda. Beliau bukan sahaja berjuang menegakkan agama Islam dengan segenap jiwa raganya bahkan juga dengan harta kekayaannya. Sungguh beliaulah yang paling banyak sekali berkorban harta untuk menegakkan agama Islam. Bahkan seluruh kekayaannya telah habis digunakannya untuk kepentingan perjuangan menegakkan kalimah Allah. Di kalangan para sahabat beliaulah tergolong orang yang paling murah hati dan dermawan sekali.

Dalam perang Tabuk misalnya, Rasulullah SAW telah meminta kepada sekalian kaum Muslimin agar mengorbankan harta pada jalan Allah. Tiba-tiba datanglah Sayyidina Abu Bakar r.a membawa seluruh harta bendanya lalu meletakkannya di hadapan baginda Rasul. Melihat banyaknya harta yang dibawa oleh Sayyidina Abu bakar r.a bagi tujuan jihad itu maka Rasulullah SAW menjadi terkejut lalu berkata padanya:

“Wahai Abu Bakar, kalau sudah semua harta bendamu kau korbankan, apa lagi yang akan engkau tinggalkan buat anak-anak dan isterimu?”

Sayyidina Abu Bakar As Siddiq r.a dengan tenang menjawab, “Saya tinggalkan buat mereka Allah dan Rasul-Nya.”

Demikianlah kehebatan jiwa Sayyidina Abu Bakar As Siddiq r.a, suatu contoh kemurahan hati yang memang tidak dijumpai bandingannya di dunia. Memandangkan besarnya pengorbanan beliau terhadap Islam maka wajarlah kalau Rasulullah bersabda bahawa tegaknya agama Islam itu lantaran harta benda Siti Khadijah dan juga Sayyidina Abu Bakar as Siddiq. Tepatlah juga kiranya iman Sayyidina Abu Bakar r.a ditimbang dan dibandingkn dengan iman seluruh umat manusia maka berat lagi iman Sayyidina Abu Bakar r.a. Beliau memang manusia luar biasa. Kebesarannya telah ditakdirkan oleh ALLAH SWT untuk menjadi teman akrab Rasulullah SAW.

Pada suatu ketika di saat Rasulullah SAW membaca khutbah yang antara lain menyatakan bahawa:  “…kepada seseorang hamba Allah yang apabila ditawarkan untuk memilih dunia atau memilih ganjaran yang tersedia di sisi Allah, dan hamba Allah tersebut tidak akan memilih dunia, melainkan memilih apa yang tersedia di sisi Tuhan…”

Maka ketika mendengar khutbah Nabi demikian itu, Sayyidina Abu Bakar r.a lalu menangis tersedu-sedu, kerana sedih dan terharu sebab beliau mendengar dan mengerti bahawa yang dimaksudkan dalam isi khutbah tersebut ialah bahawa umur kehidupan Rasul di dunia ini sudah hampir berakhir. Demikian kelebihan Sayyidina Abu Bakar r.a dibanding dengan para sahabat yang lain kerana beliaulah yang mengetahui bahawa umur Rasul hampir dekat.

Keunggulan beliau dapat dilihat dengan jelas selepas wafatnya Rasulullah SAW di kala umat Islam hampir-hampir menjadi panik serta tidak percaya kepada kewafatannya. Ketika itu Sayyidina Abu Bakar sedang berada di Kampung As Sunnah. Tatkala berita kewafatan Rasulullah SAW itu sampai kepadanya, beliau dengan segera menuju ke Madinah. Tanpa lengah-lengah lagi Sayyidina Abu Bakar terus ke rumah puterinya Siti Aisyah dan disanalah beliau dapati tubuh Rasulullah SAW terbujur di satu sudut di rumah. Beliau lantas membuka wajah Rasulullah SAW dan mengucup dahinya, sambil berkata,”Wahai, betapa cantiknya engkau ketika hidup dan betapa cantiknya ketika engkau ketika mati!”

Kemudian beliau pun keluar mendapatkan orang ramai yang sedang dalam panik itu lalu berkata dengan nada keras:

“Wahai kaum muslimin! Barang siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati. Tetapi barang siapa menyembah Allah maka Allah selama-lamanya hidup tidak mati!”

Seraya menaymbung membacakan sepotong ayat dari Al-Quran:

“Muhammad itu tidak lebih dari seorang Rasul seperti rasul-rasul yang terdahulu darinya. Jika ia mati atau terbunuh, patutkah kamu berundur ke belakang, dia tidak akan membahayai Allah sedikit pun dan sesungguhnya Allah akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur.”

Sejurus sahaja mendengar ayat itu, kaum muslimin pun mendapat kepastian bahawa Rasulullah sudah wafat. Mereka tentunya telah pernah dengar ayat itu telah turun semasa peperangan Uhud, ketika Rasulullah SAW telah diberitakan mati terkorban dan menyebabkan ramai pejuang-pejuang Islam berundur ke Madinah. Tetapi mereka tidaklah memahami maksud ayat ini seperti yang difahami oleh Sayyidina Abu Bakar r.a . Ini jelas membuktikan kecerdasan Sayyidina Abu Bakar As Siddiq dalam memahami Islam.

Selepas kewafatan Rasulullah SAW, Sayyidina Abu Bakar r.a telah menjadi khalifah umat Islam yang pertama. Beliau telah memberikan ucapannya yang terkenal iaitu:

“Wahai sekalian umat! Aku telah dipilih menjadi pemimpin kamu padahal aku ini bukanlah orang yang terbaik di antara kamu. Sebab itu jika pemerintahanku baik, maka sokonglah, tetapi jika tidak baik, maka perbaikilah. Orang yang lemah di antara kamu adalah kuat di sisiku hingga aku harus mengambil hak orang lain yang berada disisinya, untuk dikembalikan kepada yang berhak semula. Patuhilah kepadaku selama aku patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi jika aku menderhakai Allah, maka kamu sekalian tidak harus lagi patuh kepadaku.

“Aku dipilih untuk memimpin urusan ini padahal aku enggan menerimanya. Demi Allah aku ingin benar kalau ada di antaramu orang yang cekap untuk urusan ini. Ketahuilah jika kamu meminta kepadaku agar aku berbuat sebagai yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW sungguh aku tidak dapat memperkenankannya, Rasulullah SAW adalah seorang hamba Allah yang dapat kurnia wahyu dari Tuhan, kerana itu baginda terpelihara dari kesalahan-kesalahan, sedang aku ini hanyalah manusia biasa yang tidak ada kelebihannya dari seorang pun juga di antara kamu.”

Ini adalah satu pembaharuan dalam pemerintahan yang belum pernah dikenali oleh orang rakyat jelata kerajaan Rom dan Parsi yang memerintah dunia Barat dan Timur ketika itu. Sayyidina Abu Bakar hidup seperti rakyat biasa dan sangat tidak suka didewa-dewakan,

“Ya Khalifah Allah!”

Beliau dengan segera memintas cakap orang itu dengan katanya:

“Saya bukan Khalifah Allah, saya hanya Khalifah Rasul-Nya!”

Adalah diriwayatkan bahawa pada keesokan harinya iaitu sehari setelah terpilih sebagai Khalifah, Sayyidina Abu Bakar r.a kelihatan membawa barang perniagaanya ke pasar. Beberapa orang yang melihat itu lalu mendekati beliau, di antaranya Sayyidina Abu Ubaidah bin Jarrah. Sahabat besar itu berkata, “Urusan Khalifah itu tidak boleh dicampuri dengan berniaga!”

Lalu Abu Bakar r.a bertanya, “Jadi dengan apakah aku hidup, dan bagaimana aku membelanjai rumah tanggaku?”

Demikian sedihnya nasib yang menimpa Sayyidina Abu Bakar r.a sebab walaupun kedudukannya sebagai Ketua Negara namun belum ada lagi ketetapan bagi seseorang ketua pemerintah Islam memperolehi peruntukan dari harta kerajaan. Keadaan ini mendapat perhatian dari para sahabat lalu mereka menentukan bantuan secukupnya buat Khalifah dan keluarganya yang diambil dari Baitul Mal. Kemudian itu baharulah Khalifah Abu Bakar meninggalkan usaha perniagaannya kerana hendak memusatkan seluruh tenaganya untuk mengembangkan agama Islam dan menjalankan tanggungjawabnya sebagai seorang Khalifah.

Semasa bertugas sebagai Khalifah, beliau menerima peruntukan sebanyak enam ribu dirham sahaja setahun. Peruntukan itu tidak dibelanjakannya untuk keperluan dirinya malahan di penghujung umurnya beliau telah memerintahkan supaya pendapatannya itu diserahkan kembali kepada Baitul Mal.

Sebelum wafat, Sayyidina Abu Bakar r.a telah memanggil Sayyidina Umar r.a lalu berkata, “Dengarlah hai Umar! Apa yang akan kukatakan ini, laksanakanlah. Aku mengharap akan kembali ke hadrat Allah hari ini sebab itu sebelum matahari terbit pada esok hari engkau hendaknya telah mengirim bala bantuan kepada Al Munthanna. Janganlah hendaknya sesuatu bencana bagaimana pun besarnya dapat melupakan kamu dan urusan agama dan wasiat Tuhan. Engkau telah melihat apa yang telah kulakukan tatkala Rasulullah SAW wafat sedangkan wafatnya Rasulullah itu adalah satu bencana yang belum pernah manusia ditimpa bencana yang sebesar itu. Demi Allah, andaikata di waktu itu aku melalaikan perintah Allah dan RasulNya, tentu kita telah jatuh dan mendapat seksaan Allah, dan pasti pula kota Madinah ini telah menjadi lautan api.”

Sayyidina Abu Bakar As Siddiq menjadi khalifah dalam masa dua tahun sahaja. Walaubagaimanapun beliau telah meletakkan asas pembangunan sebuah pemerintahan Islam yang teguh dan kuat. Beliau juga berjaya mengatasi berbagai masalah dalam negeri dengan segala kebijaksanaan dan kewibawaannya. Dalam masa dua tahun pemerintahannya itu telah terbentuk rantai sejarah Islam yang merupakan lembara-lembaran yang abadi.

Sungguh kehidupan Sayyidina Abu Bakar As Siddiq adalah penuh dengan nasihat, penuh dengan ajaran serta kenangan-kenangan yang indah mulia. Selama dua tahun pemerintahannya itu beliau telah berjaya menyusun tiang-tiang pokok dan kekuatan Islam. Beliau telah membangunkan kekuatan-kekuatan yang penting bagi memelihara kepercayaan kaum muslimin dan bagi memelihara keagungan agama Islam. Bahkan beliau telah mengakhiri riwayat pemerintahan yang dipimpinnya dengan menundukkan sebahagian daripada negeri Syam dan sebahagian daripada negeri Iraq, lalu pulang ke rahmatullah dengan dada yang lapang, ketika umur baginda menginjak 63 tahun. Baginda dikebumikan di samping makam Rasulullah SAW di Masjid Nabi, Madinah.

Semoga riwayat serta perjuangan beliau dan para sahabat, dapat kita contohi terutama di dalam menyokong setiap langkah Abuya bagi membuktikkan kata-kata Rasulullah SAW bahawa Islam akan menapaki kegemilangannya untuk kali kedua di sebelah Timur oleh Al Mahdi bersama-sama pemegang panji-panjinya iaitu Putera Bani Tamim. 

10 cara untuk mengatasi rasa malu


Rasa malu memang sesuatu yang sangat merugikan diri sendiri. Malu memang boleh – boleh saja, asalkan malu berbuat sesuatu kejahatan. Namun bagaimana jika malu tersebut dalam segala hal. Seperti malu berbicara, malu menatap orang, bahkan malu mengungkapkan kebenaran. Tentu hal ini tidak kita inginkan.
Berikut 10 tips untuk belajar mengatasi rasa malu, gugup dan takut pada diri Anda :
1. Kuatkanlah Kepribadian/Harga Diri Kalian.
Melemahnya harga diri berdampak pada melemahnya kepribadian dan memicu rasa takut bermasyarakat. Seseorang merasa tidak ada apa-apanya. Merasa kurang dibandingkan orang lain. Karena itu, ia lebih memilih diam. Tidak berani berbicara didepan umum, tidak pula angkat tangan untuk suara di perkuliahan.
2. Jangan malu dari rasa malu Anda.
Terimalah diri kalian apa adanya, tidak kurang atau lebih. Setelah itu, kalian akan menghargai diri kalian secara internal, lalu mencintai diri kalian juga secara internal banyak kesempatan berbenah, semakin terbuka lebar keberhasilan.
3. Jangan takut pendapat orang lain.
Kritik dan saran dari orang lain merupakan salah satu guru terbaik kita, dimana dari kritikan tersebut dapat membangun untuk kita berbenah kelebih baik lagi pada kesempatan selanjutnya.
4. Mintalah saran orang terdekat (orang tua) tentang timbulnya malu.
mintalah pendapat, saran maupun sugesti orang terdekat missal orang tua atau kakak/adik, kenapa dan bagaimana agar rasa malu itu hilang atau karena tekanan-tekanan dari suatu pihak maupun kurangnya belas kasih orang tua dan dikesempatan itu dapat bertukar pendapat dengan orang tua atau kakak/adik.
5. Seringlah Berkumpul Dengan Kawan.
Bergurau, canda dan tawa dengan teman dapat pula meminimalisirkan rasa malu kita. Pada umumnya jia si bangku sekolah kita malu maju karena ada terlihat asing dengan teman jadi sering berkumpul dengan membuat kita terbiasa dengan lingkungan teman kita.
6. Belajar berbicara Layaknya Pembicara Yang sudah handal
Yakinkan pada diri kalian bahwa teman-teman/orang-orang yang menonton kalian mempunyai kemampuan yang sama jika berbicara didepan audiens (penonton). Terimalah dengan hati lapang segala kritikan yang membangun, kritikan itu sangat berguna untuk perkembangan wawasan kalian.
7. Jangan takut salah.
Jangan pernah takut salah dalam membuat sesuatu kebenaran. Karena jika anda selalu takut salah maka anda takkan bisa memulai apapun. Dan tentunya itu menjadi salah satu faktor mendatangkan malu pada diri sendiri juga pada orang lain.
8. Bernafas Dengan Tenang.
Sebelum berbicara didepan, menghadapi soal ujian maupun tes wawancara misalnya tariklah nafas dalam-dalam, sesekali tarik nafas kembali dalam-dalam kembali agar perasaan dan tubuh menjadi tenang dan rilex.
9. Berpikir positif.
selalu berpikir positif, jangan selalu merendahkan diri sendiri “ah pasti aku tidak bisa, pasti temen-temen menertawakanku, pasti otakku tidak encer” kata-kata itu sering disebut-sebut oleh anak sekolah. Hindarilah! Jadianlah diri kalian yang paling hebat “Aku pasti bisa!”,”aku akan berjuang!”.
10. Dekatilah Orang-Orang Yang Telah Sukses mengusir Rasa Malunya.
Misalkan, orang tua, guru maupun narasumber-narasumber psikolog untuk berkonsultasi masalah tersebut, dan memunculkan pertanyaan kepada mereka “Bagaimana sih?, apa sih? dan sebagainya sampai kalian menemukan solusi mengusir rasa malu tersebut

Sunday 28 June 2015

myself






NAMA:Muhammad afiq bin mat nawi
UMUR;16 tahun
TARIKH LAHIR:9 JUN 1999
SEKOLAH:MAKTAB RENDAH SAINS MARA BESUT
TINGKATAN:4
MAKANAN KEGEMARAN;nasi goreng kampung
MINUMAN KEGEMARAN;fresh orange
CITA-CITA:arkitek
MOTO;hidup tak akn hidup selagi hidup tak hidup

penawar buat individu-takzirah

Satu Harapan
Setiap masalah mempunyai cara penyelesaiannya kecuali mati. [Adrea Pesce]
Dalam video Habib Ali Zaenal Abidin Al-Hamid tentang Mintalah Kepada Allah Walaupun Garam, beliau berkongsi tentang,
“Apabila kita selalu meminta kepada manusia, mereka akan marah. Tetapi Allah, apabila kita tidak minta, Dia marah.”

Kisah Danial Dan Rahmat – Kerana Sikap Bertangguh, Danial Dikatakan Bodoh

Suatu kisah, Danial dan Rahmat berkolaborasi dalam sebuah projek perniagaan. Rahmat ibarat pemimpin yang mengetuai projek itu. Danial pula jenis pengikut yang hanya mengikut apa yang Rahmat katakan.
Selama mereka berkolaborasi, Danial mula buat perangai. Dia bertangguh dalam tugasan untuk projek mereka. Diberi motivasi, baru Danial bertindak. Dalam pada itu, Danial banyak bertanya hal yang remeh kepada Rahmat.
Pada mulanya Rahmat rajin menjawab. Lama-kelamaan, dia mula bosan dengan sikap Danial. Walau Rahmat tidak perkatakannya tetapi Danial boleh rasa daripada perkataan yang ditulis oleh Rahmat di grup perbincangan maya mereka.
Rahmat mula mengeluarkan kata-kata kesat kepada Danial. Danial terasa direndah-rendahkan oleh Rahmat, seterusnya Danial membuat keputusan untuk berpecah dengan Rahmat.
Dia tawar hati untuk teruskan kolaborasi. Oleh sebab, semakin hari Rahmat semakin membuat Danial seperti rasa individu yang tidak berguna, bebal dan hanya menyusahkan dia.
Jadi, pada Danial, lebih baik dia berpecah dan cari haluan sendiri.

Hilang Tempat Bergantung – Peluang Dekat Dengan Tuhan

Selama lebih setahun, Danial bersama Rahmat. Kebanyakan hala tuju dan tugasan yang perlu dibuat Rahmat yang putuskan. Danial hanya mengekori apa yang Rahmat tetapkan.
Selepas perpecahan, Danial sedar betapa dia banyak bergantung kepada Rahmat selama ini dalam projek mereka. Danial rasakan seperti dia hilang tempat pergantungan.
Selama beberapa minggu, Danial tidak tahu apa yang perlu dia lakukan. Ke mana hala tujunya selepas ini. Dalam pada itu, Danial banyak menunaikan solat hajat untuk meminta petunjuk dan arah tuju daripada Allah.
Alhamdulillah, selepas beberapa minggu melakukannya, Danial mula dikurniakan tanda-tanda Allah tentang apa yang dia perlu usahakan.
Menangis Danial di atas sejadah kerana selama ini, dia banyak bergantung kepada manusia dalam urusannya. Dia terlepas pandang tentang rahmat Tuhan. Kehilangan Rahmat dalam projek perniagaannya menyedarkannya untuk kembali menadah tangan kepada Tuhan.

Tuhan Maha Mengabulkan

Berdoa
Berdoalah kepada Pencipta yang Maha Mendengar. [Websta]
Di Facebook Page Mudahnya Menjemput Rezeki dikongsi tentang tip percepatan pemakbulan impian atau penyelesaian masalah dengan izin Allah, iaitu 3 S – solat hajat, selawat dan sedekah.

1. Solat Hajat

Solat Hajat bertujuan untuk hamba-Nya meminta sesuatu kepada Allah. Di fasa ini, Danial mengadu tentang kebuntuannya mencari hala tuju apa yang perlu dia lakukan.
Danial mengakui kepada Tuhan bahawa kehilangan Rahmat dalam projek perniagaannya membuat dia hilang arah tuju.

2. Selawat

Dosa itu adalah penghijab rezeki yang paling baik. Semakin banyak dosa, akan semakin terhijab sesuatu doa. Justeru, perbanyakan selawat untuk membersihkan diri kita daripada dosa, seterusnya mempermudah pemakbulan doa. Insya-Allah.
Sabda Nabi s.a.w “ Barangsiapa yang berselawat kepadaku satu kali, maka Allah berselawat kepadanya sepuluh kali selawat dan Allah menghapus sepuluh kesalahan (dosa) dan mengangkat sepuluh darjat kepadanya.”Hadis Riwayat Ahmad,Nasai & Al-Hakim
Insya-Allah semakin banyak kita berselawat kepada Nabi Muhammad S.A.W., apabila hati semakin bersih, lebih mudah rezeki seperti idea, ilham datang kepada kita.

3. Sedekah

Selari dengan firman Allah,
“Adapun orang yang memberikan apa yang ada padanya ke jalan kebaikan (bersedekah) dan bertaqwa (mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya).
Serta ia mengakui dengan yakin akan perkara yang baik. Maka sesungguhnya Kami akan memberikannya kemudahan untuk mendapat kesenangan (Syurga).”
Surah Al Lail, 92: 5-7
Insya-Allah apabila kita bersedekah dan melakukannya kerana Allah, Allah akan berikan jalan penyelesaian yang tidak disangka-sangka.
Di saat buntu, carilah Allah dahulu. Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya yang mengangkat tangan berdoa kepada-Nya.